Minggu, 05 April 2015

Kandeg Jhon TITOR

John TITOR Kandeg pendukung teori HAWKING

Stephen Hawking: Tuhan Tidak Campur Tangan Dalam Penciptaan Alam Semesta,



Teori kontroversial terbaru dari  Stephen Hawking yang baru-baru ini dirilis melalui peluncuran bukunya yang berjudul "The Grand Design".Informasi dari Vivanews.com menyebutkan Stephen Hawking berkeyakinan bahwa kini ilmu pengetahuan saat ini kian mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dulu menjadi ranah agama. Perhitungan ilmiah kini sudah komplit. Teologi tidak lagi diperlukan,karena teologi merupakan distingsi sub familier,artinya teologi seebagai teks suci secara positivistik hanya akan membahas simbo lsimbol pengetahuan yang sifatnya multitafsir'

 Hawking juga mengatakan bahwa jika alam semesta dapat tercipta dengan sendirinya, maka terdapat alam semesta-alam semesta lainnya selain alam semesta kita yang juga tercipta secara spontan dari ketiadaan. Kesemua alam semesta ini menurutnya terbentuk tanpa perlu campur tangan Tuhan. Dia menyebut pembentukan banyak alam semesta ini dengan nama M-theory.Dengan adanya itu hawking sangat mengagungkan theori rasional,dan kesadaran adalah pemicu.

"Inilah inti dari buku saya, bahwa ilmu pengetahuan dapat menjelaskan alam semesta. Karena dari itu, kita tidak membutuhkan ilmu Tuhan untuk menjelaskan mengapa ada sesuatu ketimbang tiada, atau menjelaskan mengapa alam semesta terjadi seperti sekarang." ujar Hawking.

M-theory membahas substansi dasar yang membentuk alam semesta ini, mungkin lebih sederhananya lagi bisa dikatakan bahwa teori ini mempercayai bahwa alam semesta pada asalnya dibentuk oleh Quantum Mekanik dan Gravitasi. Hingga kini teori ini masih tidak sempurna. Teori ini pun sebenarnya sudah banyak menjalani uji pembuktian melalui beberapa uji konsistensi matematis yang mencoba untuk menggabungkan Quantum Mekanik dan Gravitasi, namun teori ini gagal lolos dari semua uji tersebut.

Menurut JHON TITOR KANDEG menghadapi teori ini sebenarnya cukup dengan satu pertanyaan saja, dikatakan bahwa hanya dengan quantum mekanik dan gravitasi maka alam semesta ini tercipta dengan spontan dari ketiadaan, nah sekarang pertanyaannya adalah:


Bagaimana dengan eksistensi Gravitasi?
Darimana asal muasal Gravitasi itu sendiri?
Darimana asalnya sumber energi yang menggerakkan Quantum Mekanik itu sendiri?

Inilah pertanyaan-pertanyaan sederhana yang luput oleh Hawking. Apa yang disebut Hawking sebagai "awal muasal" bukanlah asal muasal bukan pula sumber awal, karena masih tersisa misteri yang tidak bisa dijawab oleh Hawking itu sendiri, siapa di balik sutradara dari gravitasi dan quantum mekanik itu sendiri? Apa yang diutarakan dan diyakini serta temuannya itu semua hanya "baru setengah perjalanan saja" atau bahkan mungkin baru sebutir pasir yang ditangkap oleh akal Hawking.

Saya menjadi teringat akan sebuah pepatah dari barat:

Di dunia ini tidak ada yang tidak bisa,
bila ada kemauan dan kemampuan,
hampir semua hal dapat kita lakukan.

Mencermati redaksi "Di dunia ini tidak ada yang tidak bisa, bila ada kemauan dan kemampuan" hal ini telah menunjukkan kesombongan dan arogansi ilmu barat akan supremasi akal, pengetahuan, dan kemampuan manusia yang seolah tanpa batas dan menafikkan Allah Sang Pencipta dan Sang Penguasa Jagad Raya dan Alam Semesta.

Namun menariknya pada kalimat selanjutnya terdapat kata-kata "hampir semua..." hal ini mencerminkan masih adanya pengakuan adanya suatu keterbatasan manusia dibanding Allah.

Bagaimanapun kita memaksakan diri menolak adanya campur tangan Tuhan, maka selama itu kita akan selalu menemui sebuah ujung yang tetap menjadi misteri karena akal kita yang tidak mampu mencapainya.konsep kemandirian akal pernah ditunjukan MUSA AS,bagaimana seorang Musa memaksa Tuhan utk bertajjali menunjukan eksistensinya.

Sabtu, 04 April 2015

John TITOR Kandeg pendukung teori HAWKING

Stephen Hawking: Tuhan Tidak Campur Tangan Dalam Penciptaan Alam Semesta



Dalam sebuah diskusi ba'da Shubuh saat kunjungan saya ke FK Unsoed Purwokerto, Prof. dr. M.K. Tadjudin (Profesor Biologi UI) yang kebetulan hadir saat itu, mendiskusikan teori kontroversial terbaru dari  Stephen Hawking yang baru-baru ini dirilis melalui peluncuran bukunya yang berjudul "The Grand Design".Informasi dari Vivanews.com menyebutkan Stephen Hawking berkeyakinan bahwa kini ilmu pengetahuan saat ini kian mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dulu menjadi ranah agama. Perhitungan ilmiah kini sudah komplit. Teologi tidak lagi diperlukan.

Hawking juga mengatakan bahwa jika alam semesta dapat tercipta dengan sendirinya, maka terdapat alam semesta-alam semesta lainnya selain alam semesta kita yang juga tercipta secara spontan dari ketiadaan. Kesemua alam semesta ini menurutnya terbentuk tanpa perlu campur tangan Tuhan. Dia menyebut pembentukan banyak alam semesta ini dengan nama M-theory.

"Inilah inti dari buku saya, bahwa ilmu pengetahuan dapat menjelaskan alam semesta. Karena dari itu, kita tidak membutuhkan ilmu Tuhan untuk menjelaskan mengapa ada sesuatu ketimbang tiada, atau menjelaskan mengapa alam semesta terjadi seperti sekarang." ujar Hawking.

M-theory membahas substansi dasar yang membentuk alam semesta ini, mungkin lebih sederhananya lagi bisa dikatakan bahwa teori ini mempercayai bahwa alam semesta pada asalnya dibentuk oleh Quantum Mekanik dan Gravitasi. Hingga kini teori ini masih tidak sempurna. Teori ini pun sebenarnya sudah banyak menjalani uji pembuktian melalui beberapa uji konsistensi matematis yang mencoba untuk menggabungkan Quantum Mekanik dan Gravitasi, namun teori ini gagal lolos dari semua uji tersebut.

Menurut Prof. dr. M.K. Tadjudin, menghadapi teori ini sebenarnya cukup dengan satu pertanyaan saja, dikatakan bahwa hanya dengan quantum mekanik dan gravitasi maka alam semesta ini tercipta dengan spontan dari ketiadaan, nah sekarang pertanyaannya adalah:

Bagaimana dengan eksistensi Gravitasi?
Darimana asal muasal Gravitasi itu sendiri?
Darimana asalnya sumber energi yang menggerakkan Quantum Mekanik itu sendiri?

Inilah pertanyaan-pertanyaan sederhana yang luput oleh Hawking. Apa yang disebut Hawking sebagai "awal muasal" bukanlah asal muasal bukan pula sumber awal, karena masih tersisa misteri yang tidak bisa dijawab oleh Hawking itu sendiri, siapa di balik sutradara dari gravitasi dan quantum mekanik itu sendiri? Apa yang diutarakan dan diyakini serta temuannya itu semua hanya "baru setengah perjalanan saja" atau bahkan mungkin baru sebutir pasir yang ditangkap oleh akal Hawking.

Saya menjadi teringat akan sebuah pepatah dari barat:

Di dunia ini tidak ada yang tidak bisa,
bila ada kemauan dan kemampuan,
hampir semua hal dapat kita lakukan.

Mencermati redaksi "Di dunia ini tidak ada yang tidak bisa, bila ada kemauan dan kemampuan" hal ini telah menunjukkan kesombongan dan arogansi ilmu barat akan supremasi akal, pengetahuan, dan kemampuan manusia yang seolah tanpa batas dan menafikkan Allah Sang Pencipta dan Sang Penguasa Jagad Raya dan Alam Semesta.

Namun menariknya pada kalimat selanjutnya terdapat kata-kata "hampir semua..." hal ini mencerminkan masih adanya pengakuan adanya suatu keterbatasan manusia dibanding Allah.

Bagaimanapun kita memaksakan diri menolak adanya campur tangan Tuhan, maka selama itu kita akan selalu menemui sebuah ujung yang tetap menjadi misteri karena akal kita yang tidak mampu mencapainya.

Maha Suci Allah dari kekurangan dan kelemahan mahluk-mahluk ciptaan-Nya.

Salah satu ilmuwan muslim yang paling gigih melawan kalangan ilmuwan atheis ini adalah Harun Yahya (Adnan Oktar). Anda bisa menjelajah lebih lanjut karya-karya sain Harun Yahya ini di www.harunyahya.com/indo




 
Foto: suasana diskusi ba'da shubuh bersama Prof. M.K. Tadjudin di Purwokerto

John Titor Kandeg berkenalan M- THEORY stephen hawking

John Titor Kandeg berkenalan  M- THEORY stephen hawking


Stephen Hawking

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Stephen William Hawking
Stephen Hawking.StarChild.jpg
Stephen Hawking di NASA tahun 1999
Lahir Stephen William Hawking
8 Januari 1942 (umur 73)
Oxford, Britania Raya
Tempat tinggal Inggris
Kebangsaan Britania
Bidang Matematika terapan
Fisika teoretis
Institusi Universitas Cambridge
Perimeter Institute for Theoretical Physics
Alma mater Universitas Oxford
Universitas Cambridge
Pembimbing doktoral Dennis Sciama
Pembimbing akademik lainnya Robert Berman
Mahasiswa doktoral Bruce Allen
Raphael Bousso
Fay Dowker
Malcolm Perry
Bernard Carr
Gary Gibbons
Harvey Reall
Don Page
Tim Prestidge
Raymond Laflamme
Julian Luttrell
Dikenal karena Lubang hitam
Kosmologi teoretis
Gravitasi kuantum
Radiasi Hawking
Dipengaruhi Dikran Tahta
Penghargaan Prince of Asturias Award (1989)
Copley Medal (2006)
Presidential Medal of Freedom (2009)
Pasangan Jane Hawking
Stephen William Hawking, CH, CBE, FRS (lahir di Oxford, Britania Raya, 8 Januari 1942; umur 73 tahun[1]), adalah seorang ahli fisika teoretis. Ia adalah seorang profesor Lucasian dalam bidang matematika di Universitas Cambridge dan anggota dari Gonville and Caius College, Cambridge. Ia dikenal akan sumbangannya di bidang fisika kuantum, terutama karena teori-teorinya mengenai teori kosmologi, gravitasi kuantum, lubang hitam, dan radiasi Hawking. Salah satu tulisannya adalah A Brief History of Time, yang tercantum dalam daftar bestseller di Sunday Times London selama 237 minggu berturut-turut.[2][3] Pada tahun 2010 Hawking bersama Leonard Mladinow menyusun buku The Grand Design.
Meskipun mengalami tetraplegia (kelumpuhan) karena sklerosis lateral amiotrofik

 
Stephen Hawking lahir pada 8 Januari 1942 dari pasangan Dr. Frank Hawking, seorang biolog, dan Isobel Hawking. Ia memiliki dua saudara kandung, yaitu Philippa dan Mary, dan saudara adopsi, Edward.[4] Orang tua Hawking tinggal di North London dan pindah ke Oxford ketika ibu Hawking sedang mengandung dirinya untuk mencari tempat yang lebih aman. (London saat itu berada dibawah serangan Luftwaffe Jerman).[5]
Setelah Hawking lahir, keluarga mereka kembali ke London. Ayahnya lalu mengepalai divisi parasitologi di National Institute for Medical Research.[4] Pada tahun 1950, Hawking dan keluarganya pindah ke St Albans, Hertfordshire. Di sana ia bersekolah di St Albans High School for Girls dari tahun 1950 hingga 1953 (pada masa itu, laki-laki dapat masuk ke sekolah perempuan hingga usia sepuluh tahun).[6] Dari usia sebelas tahun, Hawking bersekolah di St Albans School.[4]
University College, Oxford, tempat Hawking berkuliah.
Hawking selalu tertarik pada ilmu pengetahuan.[4] Ia terinspirasi dari guru matematikanya yang bernama Dikran Tahta[7] untuk mempelajari matematika di universitas. Ayahnya ingin agar Hawking masuk ke University College, Oxford, tempat ayahnya dulu bersekolah. Hawking lalu mempelajari ilmu pengetahuan alam. Ia mendapat beasiswa, dan lalu berspesialisasi dalam fisika.[5]
Setelah menerima gelar B.A. di Oxford pada 1962, ia tetap tinggal untuk mempelajari astronomi. Ia memilih pergi ketika mengetahui bahwa mempelajari bintik matahari tidak sesuai untuknya dan Hawking lebih tertarik pada teori daripada observasi.[4] Hawking lalu masuk ke Trinity Hall, Cambridge. Ia mempelajari astronomi teoretis dan kosmologi.
Segera setelah tiba di Cambridge, gejala sklerosis lateral amiotrofik (ALS) yang akan membuatnya kehilangan hampir seluruh kendali neuromuskularnya mulai muncul. Pada tahun 1974, ia tidak mampu makan atau bangun tidur sendiri. Suaranya menjadi tidak jelas sehingga hanya dapat dimengerti oleh orang yang mengenalnya dengan baik. Pada tahun 1985, ia terkena penyakit pneumonia dan harus dilakukan trakeostomi sehingga ia tidak dapat berbicara sama sekali. Seorang ilmuwan Cambridge membuat alat yang memperbolehkan Hawking menulis apa yang ingin ia katakan pada sebuah komputer, lalu akan dilafalkan melalui sebuah voice synthesizer'.[8]

Karier dalam fisika teoretis

Mengenai keberadaan kehidupan ekstraterestrial

Stephen Hawking dalam keadaan gravitasi nol.
Hawking meyakini bahwa kehidupan ekstraterestrial memang ada, dan ia menggunakan basis matematis untuk asumsinya. "Menurut otak matematisku, angka menunjukan bahwa keberadaan alien sangatlah rasional. Tantangan terbesar adalah memperkirakan seperti apakah alien itu." Ia meyakini bahwa alien tidak hanya ada di planet-planet, tetapi mungkin juga di tempat lain, seperti bintang atau mengapung di angkasa luas. Hawking juga memperingati bahwa beberapa spesies alien mungkin memiliki peradaban yang maju dan dapat mengancam Bumi. Hubungan dengan spesies seperti itu dapat membahayakan seluruh umat manusia.[9] Ia mengatakan, "Jika alien mengunjungi kita, hasilnya akan sama seperti ketika Columbus mendarat di Amerika, yang tidak berakhir baik bagi penduduk asli Amerika". Hawking juga menyarankan, daripada mencoba menghubungi alien, sebaiknya kita menghindari hubungan dengan mereka.[10]

Kehidupan pribadi

Hawking menikah dengan Jane Wilde, seorang murid bahasa, pada tahun 1965.[4] Jane Hawking mengurusnya hingga perceraian mereka pada tahun 1991. Mereka bercerai karena tekanan ketenaran dan meningkatnya kecacatan Hawking. Mereka telah dikaruniai tiga anak: Robert (lahir 1967), Lucy (lahir 1969), dan Timothy (lahir 1979). Hawking lalu menikahi perawatnya, Elaine Mason (sebelumnya menikah dengan David Mason, perancang komputer bicara Hawking), pada tahun 1995. Pada Oktober 2006, Hawking meminta bercerai dari istri keduanya.[11]
Ketika ditanyakan mengenai IQnya pada tahun 2004, Hawking menjawab, "Saya tidak tahu. Orang yang membanggakan IQnya adalah seorang pecundang."[12]

Pandangan religius

Hawking mengambil posisi agnostik dalam masalah agama.[13][14] Ia telah menggunakan kata "Tuhan" (secara metaforis)[15] untuk menggambarkan poin dalam buku-buku dan pidatonya. Mantan istrinya, Jane, menyatakan saat proses perceraian bahwa Hawking adalah seorang ateis.[16][17] Hawking menyatakan bahwa ia "tidak religius secara akal sehat" dan ia percaya bahwa "alam semesta diatur oleh hukum ilmu pengetahuan. Hukum tersebut mungkin dibuat oleh Tuhan, tetapi Tuhan tidak melakukan intervensi untuk melanggar hukum."[13] Hawking membandingkan agama dan ilmu pengetahuan pada tahun 2010, menyatakan: "Terdapat perbedaan mendasar antara agama, yang berdasarkan pada otoritas, [dan] ilmu pengetahuan, yang berdasarkan pada observasi dan alasan. Ilmu pengetahuan akan menang karena memang terbukti."[18]
Pada September 2010, The Telegraph melaporkan, "Stephen Hawking telah menyatakan bahwa Tuhan bukan pencipta alam semesta".[19] Hawking menulis dalam bukunya, , The Grand Design, bahwa "Karena adanya hukum seperti gravitasi, tata surya dapat dan akan membentuk dirinya sendiri. Penciptaan spontan adalah alasannya mengapa sekarang ada 'sesuatu' dan bukannya kehampaan, mengapa alam semesta ada dan kita ada. Tidak perlu memohon kepada Tuhan untuk memulai segalanya dan menggerakan alam semesta."